you're reading...
sosial

Ujian Nasional dan Pembentukan Karakter Bangsa

Hari ini merupakan hari ketiga berlangsungnya Ujian Nasional bagi siwa Sekolah Mengengah Atas (SMA) di seluruh Indonesia. Ujian Nasional yang berlangsung selama tiga hari ini menggunakan mekanisme baru untuk menentukan kelulusan siswa. Tidak seperti UN sebelumnya yang 100% menentukan kelulusan, tahun ini UN berkontribusi 60 % dalam penentuan kelulusan siswa dan 40% sisanya tergantung pada nilai rapor siswa. Keputusan ini tertuang dalam Permendiknas Nomor 45/2010 tentang Kriteria Kelulusan.

Formula penentuan kelulusan yang dibuat merupakan jawaban untuk mengakomodasi keluhan masyarakat tentang penyelnggaraan UN. Banyak masyarakat dan pengamat yang mengkritisi pelaksanaan UN yang dianggap tidak dapat dijadikan tolak kualitas pendidikan di Indonesia. Pelaksanaan UN dianggap tidak mencerminkan kemampuan siswa secara keseluruhan.Banyak siswa yang berprestasi di berbagai bidang tidak lulus dalam Ujian Nasional. Penilaian kemampuan siswa hanya berdasarkan sisi akademik. Terlebih lagi sisi akademik yang diukur hanya dinilai dari beberapa mata pelajaran, sedangkan potensi masing-masing individu siswa berbeda –beda. Fakta tersebut mencerminkan bahwa UN tidak dapat menjadi referensi untuk menjelaskan potensi siswa terlebih lagi dari sisi afektif siswa.

Perubahan mekanisme UN perlu disambut dengan positif, karena ada upaya dari pemerintah untuk mengubah standar pendidikan di Indonesia. Namun perubahan sistem kelulusan UN tahun 2011 masih jauh dari harapan masyarakat. Seharusnya pendidikan tidak hanya menilai sisi akademik, seharusnya pendidikan lebih memprioritaskan pendidikan moral dan perilaku. Pendidikan yang memproritaskan intelektual tanpa diimbangi dengan pendidikan moral hanya akan melahirkan individu-individu yang berorientasi pada nilai-nilai materialistis. Individu seperti demikian akan menggunakan berbagai macam cara baik halal maupun haram untuk mencapai hasil yang diinginkan. Apabila keadaan ini benar terjadi maka akan memperparah kondisi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia sedang menghadapi berbagai krisis yang menurut saya bermuara pada krisis moral. Krisis moral tidak hanya melanda golongan menengah ke atas, namun juga melanda golongan menengah ke bawah.

Krisis moral memicu berbagai polemik di masyarakat. Bersama-sama kita telah melihat bagaimana bobroknya moral para wakil rakyat yang dengan “bejat” menyalahgunakan kekuasaannya. Sedangkan msyarakat golongan menengah ke bawah kita masih sering melakukan aksi kekerasan yang selalu tidak menyelesaikan masalah bahkan justru memperpanjang masalah. Potret masyarakat demikian menggambarkan begitu tidak meratanya pendidikan dan lemahnya pendidikan moral masyarakat. Masih banyak masyarakat yang menganggap sepele pendidikan moral karena mereka menganggap urusan moral merupakan urusan pribadi, Padahal pendidikan moral sangat dibutuhkan dalam pembentukan insan Indonesia yang berkualitas.

Oleh karena itu sudah seharusnya sistem pendidikan harus memperhatikan sisi afektif. Karena dari pendidikanlah tercipta karakter bangsa yang direpresentasikan dari sikap dan perilaku masyarakatnya. Sikap dan perilaku masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi karakter  bagi  bangsa itu sendiri, akan tetapi menjadi wajah Indonesia di mata dunia. Pendidikan yang baik dapat melahirkan generasi yang dapat memutus rantai kebobrokan moral bangsa dan akhirnya mengeluarkan bangsa ini dari segala krisis.

About khairilmuslim

try to the best and useful for the others

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TRANSLATE

Just Click!!

Join 849 other followers

Blog Stats

  • 16,404 hits
%d bloggers like this: