you're reading...
Uncategorized

Manajemen Iri Hati


Tentu kita semua pernah merasa iri terhadap orang lain. Baik terhadap keluarga, kerabat, bahkan dengan seseorang yang baru kita kenal. Fenomena iri hati ini membuat aku tergerak untuk menulis dan berbagi pengalaman tentang bagaimana kita dapat mengelola rasa iri hati agar dapat memberikan pengaruh positif bagi diri sendiri maupun orang lain.

Ketika kita melihat keberhasilan seseorang, terbersit di dalam hati kita rasa iri. Kita tidak serta merta ikhlas melihat seseorang mampu melakukan sesuatu di luar batas kemampuannya. Terlebih lagi apabila seseorang mampu melampaui kemampuan yang kita miliki. Kita merasa tidak rela ketika ada yang lebih hebat dari kita. Sebagian diantara kita ada yang mampu menindaklanjuti iri hati yang dirasakannya sebagai motivasi untuk berusaha menjadi lebih baik. Namun ada pula sebagian diantara kita mewujudkan rasa iri hati dengan tindakan-tindakan yang tidak produktif bahkan merugikan orang lain.

Bagi orang-orang yang mampu mengambil sisi positif dari rasa iri hati, ia menjadikan iri hati yang dirasakan sebagai motivasi untuk berbuat lebih baik sekaligus meningkatkan kemampuannya. Ketika mereka melihat keberhasilan orang lain maka mereka akan berusaha lebih keras untuk memberikan kinerja yang terbaik. Kinerja yang baik tidak hanya dilihat dari segi kualitas dan kuantitas pekerjaan yang dilakukan, akan tetapi dari sisi pengembangan diri menjadi lebih baik.

Di sisi lain terdapat pihak yang mewujudkan rasa iri hatinya dalam perilaku yang bersifat negative. Mereka tak hanya iri terhadap keberhasilan orang lain, akan tetapi terkadang juga melakukan penghinaan sebagai bentuk kekecawaan yang dialaminya. Bahkan dalam tingkat yang frontal, iri hati direpresentasikan sebagai perilaku yang berusaha menghilangkan keberhasilan orang lain. Tentu saja kita semua berharap rasa iri hati kita tidak membuat kita menjadi seorang yang kalap yang berusaha menyingkirkan orang lain.

Sebagai contoh aku ambilkan dari kehidupan yang dekat diri aku yaitu kehidupan mahasiswa. Dalam kehidupan sebagai mahasiswa aku sering kali menjumpai dan merasakan iri terhadap teman. Ketika melihat teman mendapatkan nilai bagus atau mendapatkan beasiswa aku merasa tersaingi. Dalam posisi yang demikian aku juga sering menyalahkan keadaan (entah itu karena kesibukan organisasi maupun kegiatan lain). Aku juga sering menyalahkan orang-orang di sekitar aku sebagai biang kegagalan. Aku menjadi orang yang selalu mengeluh dan menyalahkan siapapun dan situasi apapun.

Akhirnya di saat status mahasiswa aku akan berakhir aku tersadar, ternyata selama ini apa yang aku lakukan terhadap rasa iri hati yang dirasakan selama ini ternyata SALAH. Apa yang aku lakukan yaitu hanya mengeluh dan terjebak dalam pikiran yang menyalahkan orang lain membuat aku menjadi pribadi yang tidak produktif dan tidak mengalami peningkatan sedikitpun. Aku tersadar dan berusaha membangun kehidupan menjadi lebih baik.

Pertama aku mencoba untuk mengikhlaskan segala yang terjadi. Aku tidak lagi mengeluh apa yang telah aku lewati dan alami. Kemudian aku mencoba untuk tidak mengkambinghitamkan sesuatu dari kegagalan-kegagalan yang kualami. Prinsipku saat ini semua kegagalan bersumber dari diriku. Kegagalan hadir karena aku kurang berusaha dan mungkin saja aku melupakan Sang Pencipta. Beberapa hal prinsipil lain juga turut berubah, kini aku mulai untuk focus pada bidang yang kusenangi. Aku teringat sebuah kalimat dari seorang teman baikku “bekerja itu karena passion”. Bekerja bukan semata-mata untuk dilihat orang lain dan mendapat apresiasi (baik dalam bentuk kompensasi  atau pujian). Tetapi bekerja dengan kesenangan dan gairah (passion) membuat kita nyaman dan ikhlas terhadap setiap pekerjaan yang kita jalani. Aku kini juga mencoba memegang prinsip bekerja dan memberikan yang terbaik. Tak peduli apa yang orang lain katakan tentang aku, yang penting aku dapat berkontribusi dan memberikan manfaat bagi orang lain. Meski baru beberapa saat aku mengamalkan prinsip-prinsip baruku namun aku sedikit banyak telah merasakan perubahan positif.

Kini aku menjadi pribadi yang optimis dan percaya diri terhadap kemampuan yang kumiliki. Apa yang kumiliki tidak sama dengan orang lain miliki sehingga aku tidak perlu merasa berlebihan dan memanfaatkan rasa iriku sebagai motivasi untuk berprestasi. Aku berusaha tidak menjadi orang lain karena aku tahu Tuhan menciptakan aku dengan keunikanku sendiri. Namun begitu kita harus tetap belajar dari orang lain agar kita mendapatkan ilmu yang positif dan pengalaman dari orang lain.

 

About khairilmuslim

try to the best and useful for the others

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TRANSLATE

Just Click!!

Join 849 other followers

Blog Stats

  • 16,404 hits
%d bloggers like this: