you're reading...
Bank Syariah

Konsep Dasar Keuangan Islam

Bank syariah sering kali dikenal dengan istilah bank tanpa bunga. Istilah ini didasari dari kegiatan bank syariah yang tidak menggunakan bunga sebagai acuan seperti yang digunakan oleh bank konvensional. Bunga dalam prinsip keuangan syariah dikenal dengan istilah riba. Selain riba prinsip keuangan syariah juga melarang kegiatan yang mengandung unsur maisir, gharar, dan bathil. Maisir, gharar, riba, dan bathil (sering disingkat menjadi MAGHRIB) menjadi hal yang diharamkan dalam kegiatan perbankan syariah.

Pemahaman mengenai MAGHRIB merupakan bagian yang penting dalam rangka mempelajari sistem perbankan syariah. Karena kegiatan perbankan yang bebas MAGHRIB merupakan ruh dari perbankan syariah. Hal ini pula yang menjadikan sistem perbankan syariah berbeda dengan sistem perbankan konvensional.

Berikut diuraikan penjelasan mengenai MAGHRIB berikut landasan syariah mengenai pelarangan praktek MAGHRIB dalam transaksi syariah :

  • Maisir

Menurut bahasa maisir berarti gampang/mudah. Menurut istilah maisir berarti memperoleh keuntungan tanpa harus bekerja keras. Maisir sering dikenal dengan perjudian karena dalam praktik perjudian seseorang dapat memperoleh keuntungan dengan cara mudah. Dalam perjudian, seseorang dalam kondisi bisa untung atau bisa rugi.

Judi dilarang dalam praktik keuangan Islam, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah sebagai berikut:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya’…” (QS. Al Baqarah : 219)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, maisir, berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan  syetan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS Al-Maaidah : 90)

Pelarangan maisir oleh Allah SWT dikarenakan efek negative maisir. Ketika melakukan perjudian seseorang dihadapkan kondisi dapat untung maupun rugi secara abnormal. Suatu saat ketika seseorang beruntung ia mendapatkan keuntungan yang lebih besar ketimbang usaha yang dilakukannya. Sedangkan ketika tidak beruntung seseorang dapat mengalami kerugian yang sangat besar. Perjudian tidak sesuai dengan prinsip keadilan dan keseimbangan sehingga diharamkan dalam sistem keuangan Islam.

  • Gharar

Menurut bahasa gharar berarti pertaruhan. Menurut istilah gharar berarti seuatu yang mengandung ketidakjelasan, pertaruhan atau perjudian. Setiap transaksi yang masih belum jelas barangnya atau tidak berada dalam kuasanya alias di luar jangkauan termasuk jual beli gharar. Misalnya membeli burung di udara atau ikan dalam air atau membeli ternak yang masih dalam kandungan induknya termasuk dalam transaksi yang bersifat gharar.

Terdapa beberapa ayat dan hadits yang menjadi dasar pelarangan gharar. Turunnya ayat dan hadits yang berkaitan dengan pelarangan gharar mengindikasikan bahwa gharar memberikan efek negative dalam kehidupan karena gharar merupakan praktik pengambilan keuntungan secara bathil. Ayat dan hadits yang melarang gharar diantaranya :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli al-hashah dan jual beli gharar(HR. Abu Hurairah)

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (Al-Maidah : 90)

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (Al-Baqarah : 188)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (An-Nisaa : 29)

  • Riba

Riba merupakan unsur yang paling dihindari dalam praktek perbankan syariah. Karena riba erat hubungannya dengan kegiatan perbankan. Riba dari segi bahasa berarti tambahan. Menurut istilah teknis riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok (modal) secara bathil. Pengambilan secara bathil diartikan sebagai pengambilan tambahan dari modal tanpa imbalan pengganti yang dibenarkan oleh syariah.

Riba terdiri dari bebearapa jenis, secara garis besar riba terbagi atas riba utang piutang dan riba jual beli.

Riba Utang Piutang

–    Riba Qard, riba yang timbul dikarenakan suatu manfaat atau kelebihan tertentu yang disyaratkan di muka terhadap suatu utang. Riba ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bunga kredit merupakan salah satu wujud riba qard. Islam tidak membenarkan kelebihan dari utang. Pengembalian utang harus setara dengan jumlah dana yang dipinjamkan.

–   Riba Jahiliyah, riba ini muncul akibat peminjam tidak dapat melunasi utang secara tepat waktu.

Riba Jual Beli

–   Riba Fadhl, riba ini timbul ketika terjadi pertukaran diantara barang-barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda dan barang yang dipertukarkan termasuk dalam jenis “barang ribawi”. Contoh barang ribawi antara lain beras, gandum, jagung, dsb.

–   Riba Nasi’ah, terjadi ketika penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi dengan barang ribawi lainnya.

Pelarangan riba telah dinyatakan dalam beberapa ayat Al Quran. Ayat-ayat mengenai pelarangan riba diturunkan secara bertahap. Tahapan-tahapan turunnya ayat dimulai dari peringatan secara halus hingga peringatan secara keras.

Tahapan turunnya ayat mengenai riba dijelaskan sebagai berikut :

Pertama, menolak anggapan bahwa riba tidak menambah harta justru mengurangi harta. Sesungguhnya zakatlah yang menambah harta. Seperti yang dijelaskan dalam QS. Ar Rum : 39 sebagai berikut :

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)

Kedua, riba digambarkan sebagai suatu yang buruk dan balasan yang keras kepada orang Yahudi yang memakan riba. Allah berfiman dalam QS. An Nisa : 160-161 :

“Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

Ketiga, riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda. Allah menunjukkan karakter dari riba dan keuntungan menjauhi riba seperti yang tertuang dalam QS. Ali Imron : 130 sebagai berikut :

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

Keempat, merupakan tahapan yang menunjukkan betapa kerasnya Allah mengahramkan riba. QS. Al Baqarah : 278-279 berikut ini menjelaskan konsep final tentang riba dan konsekuensi bagi siapa yang memakan riba.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Rasul pun secara tegas mengharamkan riba. Seperti dalam hadits beliau yang dikutipdari bagian surat Rasulullah kepada itab bin Usaid, Gubernur Mekkah pada saat itu agar kaum Thaif tidak menuntut hutangnya (riba yang terjadi sebelum kedatangan Islam) dari Bani Mughirah.

“Ingatlah bahwa kamu akan menghadap Tuhanm, dan dia pasti akan menghitung amalanmu. Allah telah melarang kamu mengambil riba, oleh karena itu, hutang akibat riba harus dihapuskan. Modal (uang pokok) kamu adalah hak kamu. Kamu tidak akan menderita ataupun mengalami ketidakadilan”

Selain itu dalam hadits yang diriwayatkan oleh Samura bin Jundab disebutkan bahwa orang yang memakan riba seseorang yang berdiri di tengah sungai yang penuh darah yang dilempari orang yang dipinggir sungai ketika ia berusaha untuk keluar dari sungai darah. Riba terdiri dari 73 jenis, dimana dosanya yang paling ringan adalah laksana seorang anak menzinahi ibunya sendiri. Pengharaman riba tidak hanya berlaku bagi orang menerima dan membayar riba, akan tetapi juga orang yang mencatat dan menyaksikannya.

Referensi :

  1. Modul Certified Islamic Banking Course, Intermediate Class, Modul Matrikulasi, P3EI FE UII, 2011
  2. http://ustadzkholid.com/fiqih/mengenal-jual-beli-gharar/
  3. http://www.syakirsula.com/index.php?option=com_content&view=article&id=163:maisir-judi-dalam-asuransi-syariah-&catid=32:asuransi-syariah&Itemid=76
  4. http://alislamu.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1816&Itemid=56
  5. http://wheen.blogsome.com/2007/04/10/jual-beli-gharar/

About khairilmuslim

try to the best and useful for the others

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TRANSLATE

Just Click!!

Join 849 other followers

Blog Stats

  • 16,404 hits
%d bloggers like this: