you're reading...
Bank Syariah

Pengenalan Bank Syariah

Sejarah Berdirinya Bank Syariah di Indonesia

Pada mulanya di Indonesia bank syariah dikenal dengan bank bagi hasil, dimana hal ini tertuang dalam PP. No. 72 tahun 1992. Namun melalui PP. No. 30 tahun 1999, PP. No. 72 tahun 1992 dicabut dan seiring pencabutan itu istilah bank bagi hasil berganti menjadi bank syariah. Sejarah perkembangan bank syariah di Indonesia diawali dengan terbitnya Undang-undang Perbankan No. 7 tahun 1992. Undang-undang ini kemudian disempurnakan melalui Undang – undang No. 10 tahun 1998. UU No. 10/98 menjelaskan bahwa bank berdasarkan kegiatan usahanya dibagi menjadi dua, yaitu bank yang menjalankan usaha secara konvensional dan bank yang menggunakan prinsip syariah dalam menjalankan usahanya.

Selama lebih dari enam tahun, kecuali Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1992, tidak ada peraturan perundang-undangan lainnya yang mendukung sistem beroperasinya Perbankan Syariah. Ketiadaan perangkat hukum pendukung ini memaksa Perbankan Syariah menyesuaikan produk-produknya dengan hukum positif yang berlaku (yang nota bene berbasis bunga/konvensional), di Indonesia. Akibatnya ciri-ciri syariah yang melekat padanya menjadi tersamar dan Bank Islam di Indonesia tampil seperti layaknya bank konvensional.

Dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, maka secara tegas Sistem Perbankan Syariah ditempatkan sebagai bagian dari sistim perbankan nasional. UU tersebut telah diikuti dengan ketentuan pelaksanaan dalam beberapa Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia tanggal 12 Mei 1999, yaitu tentang Bank Umum, Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dan BPR Berdasarkan Prinsip Syariah. Perangkat hukum itu diharapkan telah memberikan dasar hukum yang lebih kokoh dan peluang yang lebih besar dalam pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia.

Konsep tentang perbankan syariah telah lahir sebelum UU. No. 72 tahun 1992 terbit. Hal ini dapat disimak dari kutipan yang dikutip dari www.blog.umy.ac.id sebagai berikut :

Rintisan praktek perbankan Syari’ah di Indonesia dimulai pada awal periode 1980-an, melalui diskusi-diskusi bertemakan bank Islam sebagai pilar ekonomi Islam. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam pengkajian tersebut, untuk menyebut beberapa, di antaranya adalah Karnaen A Perwataatmadja, M Dawam Rahardjo, AM Saefuddin, dan M Amien Azis. Sebagai uji coba, gagasan perbankan Islam dipraktekkan dalam skala yang relatif terbatas di antaranya di Bandung (Bait At-Tamwil Salman ITB) dan di Jakarta (Koperasi Ridho Gusti). Sebagai gambaran, M Dawam Rahardjo dalam tulisannya pernah mengajukan rekomendasi Bank Syari’at Islam sebagai konsep alternatif untuk menghindari larangan riba, sekaligus berusaha menjawab tantangan bagi kebutuhan pembiayaan guna pengembangan usaha dan ekonomi masyarakat. Jalan keluarnya secara sepintas disebutkan dengan transaksi pembiayaan berdasarkan tiga modus,yakni mudlarabah, musyarakah dan murabahah.

Prakarsa lebih khusus mengenai pendirian Bank Syari’ah di Indonesia baru dilakukan tahun 1990. Pada tanggal 18 – 20 Agustus tahun tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan lokakarya bunga bank dan perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Hasil lokakarya tersebut kemudian dibahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV MUI di Jakarta 22 – 25 Agustus 1990, yang menghasilkan amanat bagi pembentukan kelompok kerja pendirian bank Islam di Indonesia. Kelompok kerja dimaksud disebut Tim Perbankan MUI dengan diberi tugas untuk melakukan pendekatan dan konsultasi dengan semua pihak yang terkait.

Sebagai hasil kerja Tim Perbankan MUI tersebut adalah berdirinya PT Bank Muamalat Indonesia (BMI), yang sesuai akte pendiriannya, berdiri pada tanggal 1 Nopember 1991. Sejak tanggal 1 Mei 1992, BMI resmi beroperasi dengan modal awal sebesar Rp 106.126.382.000,-. Sampai bulan September 1999, BMI telah memiliki lebih dari 45 outlet yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.”

Perkembangan Bank Syariah di Indonesia

Setelah BMI berdiri, kemudian bank-bank syariah lain pun bermunculan  seperti Bank IFI yang membuka cabang syariah, Bank Syariah Mandiri yang merupakan konversi dari Bank Susila Bakti (BSB) serta pendirian lima cabang baru berupa cabang syariah dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Perkembangan bank syariah pun saat ini semakin meningkat. Terlihat dari meningkatnya jumlah bank umum syariah (BUS), unit usaha syariah (UUS) maupun bank pembiayaan syariah (BPRS) seperti yang terlihat pada tabel berikut.

Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
BUS 3 3 3 5 6 11 11
UUS 19 20 26 27 25 23 23
BPRS 92 105 114 131 138 150 151

Sumber : Bank Indonesia, Statistik Perbankan Syariah, 2011

Hingga Oktober 2008 aset bank syariah mencapai angka Rp. 45,8 triliun atau 2,16% dari total asset perbankan nasional. Total asset bank syariah pun mengalami lonjakan yang signifikan per November 2010 perbankan syariah nasional memiliki total asset sebesar Rp. 93 triliun dan angka ini pun meningkat pada bulan Desember 2010 yang mencapai angka Rp. 97 triliun. Pada tahun 2011 Bank Indonesia menargetkan kenaikan asset bank syariah mencapai Rp. 40 triliun.

Mengingat pertumbuhannya yang pesat, industry perbankan syariah membutuhkan banyak tenaga kerja. Perbankan syariah di Indonesia memerlukan 22.521 karyawan, sekarang baru terserap 8.000 orang dan masih kurang 14.500 orang lagi karyawan untuk membenahi perbankan syariah kedepannya.

Referensi

  1. http://blog.umy.ac.id/gonnie682aslim/2011/03/03/sejarah-berdirinya-bank-syariah-di-indonesia/
  2. http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2009/11/13/aset-perbankan-syariah-indonesia-mencapai-rp-458-trilyun/
  3. http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/03/19/80669/Aset-Bank-Syariah-Melejit
Statistik Perbankan Syariah (Islamic Banking Statistic)  

Sejarah Berdirinya Bank Syariah di Indonesia

Pada mulanya di Indonesia bank syariah dikenal dengan bank bagi hasil, dimana hal ini tertuang dalam PP. No. 72 tahun 1992. Namun melalui PP. No. 30 tahun 1999, PP. No. 72 tahun 1992 dicabut dan seiring pencabutan itu istilah bank bagi hasil berganti menjadi bank syariah. Sejarah perkembangan bank syariah di Indonesia diawali dengan terbitnya Undang-undang Perbankan No. 7 tahun 1992. Undang-undang ini kemudian disempurnakan melalui Undang – undang No. 10 tahun 1998. UU No. 10/98 menjelaskan bahwa bank berdasarkan kegiatan usahanya dibagi menjadi dua, yaitu bank yang menjalankan usaha secara konvensional dan bank yang menggunakan prinsip syariah dalam menjalankan usahanya.

Selama lebih dari enam tahun, kecuali Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1992, tidak ada peraturan perundang-undangan lainnya yang mendukung sistem beroperasinya Perbankan Syariah. Ketiadaan perangkat hukum pendukung ini memaksa Perbankan Syariah menyesuaikan produk-produknya dengan hukum positif yang berlaku (yang nota bene berbasis bunga/konvensional), di Indonesia. Akibatnya ciri-ciri syariah yang melekat padanya menjadi tersamar dan Bank Islam di Indonesia tampil seperti layaknya bank konvensional.

Dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, maka secara tegas Sistem Perbankan Syariah ditempatkan sebagai bagian dari sistim perbankan nasional. UU tersebut telah diikuti dengan ketentuan pelaksanaan dalam beberapa Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia tanggal 12 Mei 1999, yaitu tentang Bank Umum, Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), dan BPR Berdasarkan Prinsip Syariah. Perangkat hukum itu diharapkan telah memberikan dasar hukum yang lebih kokoh dan peluang yang lebih besar dalam pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia.

Konsep tentang perbankan syariah telah lahir sebelum UU. No. 72 tahun 1992 terbit. Hal ini dapat disimak dari kutipan yang dikutip dari www.blog.umy.ac.id sebagai berikut :

Rintisan praktek perbankan Syari’ah di Indonesia dimulai pada awal periode 1980-an, melalui diskusi-diskusi bertemakan bank Islam sebagai pilar ekonomi Islam. Tokoh-tokoh yang terlibat dalam pengkajian tersebut, untuk menyebut beberapa, di antaranya adalah Karnaen A Perwataatmadja, M Dawam Rahardjo, AM Saefuddin, dan M Amien Azis. Sebagai uji coba, gagasan perbankan Islam dipraktekkan dalam skala yang relatif terbatas di antaranya di Bandung (Bait At-Tamwil Salman ITB) dan di Jakarta (Koperasi Ridho Gusti). Sebagai gambaran, M Dawam Rahardjo dalam tulisannya pernah mengajukan rekomendasi Bank Syari’at Islam sebagai konsep alternatif untuk menghindari larangan riba, sekaligus berusaha menjawab tantangan bagi kebutuhan pembiayaan guna pengembangan usaha dan ekonomi masyarakat. Jalan keluarnya secara sepintas disebutkan dengan transaksi pembiayaan berdasarkan tiga modus,yakni mudlarabah, musyarakah dan murabahah.
Prakarsa lebih khusus mengenai pendirian Bank Syari’ah di Indonesia baru dilakukan tahun 1990. Pada tanggal 18 – 20 Agustus tahun tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyelenggarakan lokakarya bunga bank dan perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Hasil lokakarya tersebut kemudian dibahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV MUI di Jakarta 22 – 25 Agustus 1990, yang menghasilkan amanat bagi pembentukan kelompok kerja pendirian bank Islam di Indonesia. Kelompok kerja dimaksud disebut Tim Perbankan MUI dengan diberi tugas untuk melakukan pendekatan dan konsultasi dengan semua pihak yang terkait.

Sebagai hasil kerja Tim Perbankan MUI tersebut adalah berdirinya PT Bank Muamalat Indonesia (BMI), yang sesuai akte pendiriannya, berdiri pada tanggal 1 Nopember 1991. Sejak tanggal 1 Mei 1992, BMI resmi beroperasi dengan modal awal sebesar Rp 106.126.382.000,-. Sampai bulan September 1999, BMI telah memiliki lebih dari 45 outlet yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.”

Perkembangan Industri Perbankan Syariah di Indonesia

Setelah BMI berdiri, kemudian bank-bank syariah lain pun bermunculan  seperti Bank IFI yang membuka cabang syariah, Bank Syariah Mandiri yang merupakan konversi dari Bank Susila Bakti (BSB) serta pendirian lima cabang baru berupa cabang syariah dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Perkembangan bank syariah pun saat ini semakin meningkat. Terlihat dari meningkatnya jumlah bank umum syariah (BUS), unit usaha syariah (UUS) maupun bank pembiayaan syariah (BPRS) seperti yang terlihat pada tabel berikut.

Tahun

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

BUS

3

3

3

5

6

11

11

UUS

19

20

26

27

25

23

23

BPRS

92

105

114

131

138

150

151

Sumber : Bank Indonesia, Statistik Perbankan Syariah, 2011

Hingga Oktober 2008 aset bank syariah mencapai angka Rp. 45,8 triliun atau 2,16% dari total asset perbankan nasional. Total asset bank syariah pun mengalami lonjakan yang signifikan per November 2010 perbankan syariah nasional memiliki total asset sebesar Rp. 93 triliun dan angka ini pun meningkat pada bulan Desember 2010 yang mencapai angka Rp. 97 triliun. Pada tahun 2011 Bank Indonesia menargetkan kenaikan asset bank syariah mencapai Rp. 40 triliun.

Mengingat pertumbuhannya yang pesat, industry perbankan syariah membutuhkan banyak tenaga kerja. Perbankan syariah di Indonesia memerlukan 22.521 karyawan, sekarang baru terserap 8.000 orang dan masih kurang 14.500 orang lagi karyawan untuk membenahi perbankan syariah. kedepannya.

Referensi

1. http://blog.umy.ac.id/gonnie682aslim/2011/03/03/sejarah-berdirinya-bank-syariah-di-indonesia/

2. http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2009/11/13/aset-perbankan-syariah-indonesia-mencapai-rp-458-trilyun/

3. http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/03/19/80669/Aset-Bank-Syariah-Melejit

4.

About khairilmuslim

try to the best and useful for the others

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TRANSLATE

Just Click!!

Join 849 other followers

Blog Stats

  • 16,404 hits
%d bloggers like this: