you're reading...
Must Change

Tradisi Jujuran

 

Soleh, pemuda dengan perawakan kurus ini duduk termenung di teras rumahnya. Ia masih tak mampu menerima kenyataan yaitu tak dapat menikah dengan Dina yang selama 3 tahun ini berpacaran dengan dirinya. Bukan karena ada pihak ketiga yang merusak hubungan mereka, akan tetapi karena sebuah peraturan adat yang membuatnya terpaksa tak dapat meminang pujaan hatinya. Ia tak mampu memenuhi besaran “jujuran” yang diminta oleh orangtua Dina. Pekerjaannya yang sehari-hari hanya bekerja sebagai penjual koran di sebuah kios koran kecil di pojok kompleks tak cukup menghasilkan sejumlah uang untuk membayar “jujuran” tersebut Kini Soleh pun hanya dapat meratapi nasibnya, hati yang masih dibekap kesedihan membawanya dalam lamunan yang dalam di sore hari itu.

Sekilas cerita di atas menggambarkan kesedihan seorang pria yang tak mampu meminang pujaan hatinya hanya dikarenakan harus memenuhi persyaratan yang dikenal sebagai  Jujuran yang kini sudah mulai berubah dan disalahartikan. Ia tak mampu memenuhi sejumlah permintaan yang diminta oleh orangtua sang kekasih. Status sebagai seorang yang memiliki pekerjan (tidak menganggur) tidak cukup bagi orangtua wanita untuk menerima si pria untuk menjadi suami bagi anaknya. Bagi orangtua kekasihnya jujuran merupakan syarat yang harus dipenuhi dalam pernikahan adat Suku Banjar dan tidak bisa dihilangkan karena menjadi bagian dari persyaratan.

Jujuran dalam adat pernikahan masyarakat Banjar merupakan salah satu tradisi. Jujuran merupakan pemberian dari pihak mempelai pria kepada pihak wanita dalam bentuk sejumlah uang. Banyak yang salah mengartikan jujuran sama dengan mahar. Jujuran berbeda dengan mahar dan seserahan (barang). Jujuran bukan hak milik sepenuhnya untuk mempelai wanita seperti halnya mahar, karena uang jujuran dapat digunakan untuk membiayai pesta pernikahan dan dapat digunakan oleh orangtua mempelai wanita untuk membeli kebutuhan wanita serta sebagai modal awal untuk membangun rumah tangga.

Besaran nilai jujuran tergantung oleh beberapa hal seperti latar belakang mempelai wanita. Semakin terpandang dan terhormat keluarga mempelai wanita maka semakin tinggi nilai jujuran-nya. Selain itu jujuran juga ditentukan tingkat kecantikan mempelai wanita, semakin cantik paras si wanita semakin tinggi pula nilai jujuran. Saat ini faktor yang juga memengaruhi nilai jujuran adalah tingkat pendidikan si wanita. Saat ini banyak wanita suku Banjar yang mengenyam pendidikan cukup tinggi dan telah memiliki karir. Status pendidikan dan karir mempelai wanita ini pun menjadi faktor yang menentukan nilai jujuran. Semakin tinggi pendidikan dan karir wanita yang akan dinikahi maka nilai jujuran makin tinggi pula.

Namun saat ini tradisi jujuran menuai pro-kontra. Sebagian masyarakat setuju untuk mempertahankan tradisi jujuran, namun ada sebagian masyarakat yang mulai kritis terhadap tradisi yang sudah bertahan dan merupakan warisan nenek moyang. Masyarakat yang pro menganggap jujuran merupakan bagian tradisi yang sudah seharusnya dipertahankan dan dilestarikan. Sedangkan kelompok yang kontra menganggap tradisi ini memberatkan bagi mempelai pria, terlebih lagi besaran nilai jujuran yang ditentukan oleh faktor-faktor tertentu yang sebenarnya tidak esensial. Masyarakat yang menolak tradisi ini juga beranggapan bahwa tradisi jujuran tidak terdapat dalam hukum (syariat) agama Islam. Dimana agama Islam hanya mensyaratkan mahar sebagai syarat pernikahan.

Pro-kontra seputar masalah jujuran ini pernah saya diskusikan dengan beberapa teman dan keluarga terdekat. Salah satu diskusi pernah saya lakukan adalah dengan kedua orang teman saya. Salah satu teman saya setuju dengan tradisi jujuran. Menurutnya tradisi jujuran merupakan salah satu tradisi untuk mengikat tali silaturahmi antar kedua keluarga mempelai. Jujuran juga merupakan simbol untuk menghormati wanita yang akan dipinang sehingga tradisi ini patut untuk dilestarikan. Namun ia menambahkan tradisi harus dilakukan dalam batas kewajaran (nilai jujuran).

Berbeda dengan pendapat salah seorang teman yang menyatakan sikap yang tidak setuju dengan tradisi jujuran. Menurutnya tradisi ini cukup memberatkan, terlebih jika calon mertua meminta nilai jujuran yang sangat besar.

Opini pribadi saya menganggap tradisi jujuran memang tidak sesuai dengan syariat Islam, karena tidak ada ayat maupun hadis yang membenarkan adanya pemberian selain mahar terlebih lagi karena faktor tertentu. Pernikahan tidak boleh memberatkan, karena pada hakikatnya pernikahan adalah sebuah bentuk ibadah dan ibadah tidak akan pernah memberatkan. Selain itu menurut saya ada beberapa pengaruh negatif yang saya dapatkan dari pengalaman rumahtangga dari orang-orang di sekitar saya, diantaranya :

1. Pernikahan yang menuntut jujuran memberikan kesan masyarakat yang memiliki kasta-kasta. Biasanya pernikahan dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki tingkat yang setara. Pihak wanita lebih memilih calon dari pihak yang setara karena berharap pihak pri diharapkan mampu memenuhi nilai yang diajukan oleh pihak wanita.

2. Tidak memberikan jaminan pria yang mampu memnuhi jujuran-nya dapat menjadi kepala rumahtangga yang baik. Ada kalanya calon mempelai pria yang berasal dari golongan menengah keatas tidak memiliki kemampuan untuk mandiri. Mempelai pria dari golongan menengah keatas beberapa di antaranya selalu di manjakan dan “disuapi” oleh orangtuanya sehingga cenderung diantara mereka tidak memiliki pekerjaan dan apabila memiliki pun merupakan usaha warisan orantuanya. Banyak kasus terjadi ketika usaha kedua orangtuanya bangkrut (akibat ketidakmampuan mengelola usaha keluarga), si anak tidak mampu bangkit dan mandiri membangun usahanya kembali.

3. Tidak menjamin keluarga yang harmonis. Pernikahan yang tidak dilakukan atas dasar saling mencintai dan proses perkenalan yang kurang membuat rumahtangga rawan konflik bahkan dapat memicu timbulnya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Masing-masing tidak mengenali pribadi masing-masing

4. Memberikan citra negatif bagi masyarakat Banjar itu sendiri mengingat masyarakat yang mayoritas beragama Islam namun tidak menerapkan syariat Islam. Masyarakat justru menerapkan tradisi yang tidak terdapt landasan syariatnya.

Dampak negatif yang dipaparkan di atas hanya beberapa dampak dari sekian banyak dampak yang saya rasa masih ada. Saya mengkritisi sikap orangtua yang “mematok” nilai jujuran putrinya. Seolah-olah orangtua menetapkan harga tertentu untuk menikahkan putrinya. Selain itu orangtua hanya melihat calon menantunya hanya dari keadaan sekarang bukan melihat potensi dan prospek masa depan menantunya. Seperti yang diceritakan pada cerita di awal tulisan dimana orangtua tidak mengapresiasi pekerjaan calon pria. Meskipun hanya berstatus sebagai pemiliki kios koran kecil, paling tidak si pria memiliki pekerjaan dari hasil jerih payahnya sendiri. Orangtua si wanita tidak memilik pemahaman bahwa dengan hidup di awal masa-masa berumahtangga memang membutuhkan pengorbanan. Dimana masa-masa itu baik untuk membentuk karakter keluarga yang kuat di masa depan.

Sudah saatnya kita meluruskan pemahaman kita bahwa perjodohan bukanlah masalah materi. Pernikahan merupakan sebuah rangkaian proses pembelajaran kehidupan. Saya rasa inilah alasannya kenapa pernikahan membawa nilai ibadah karena ada proses pembelajaran di dalamnya dalam rangka pembentukan insan yang memiliki karakter dan tentu saja menebalkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

(khairil)

About khairilmuslim

try to the best and useful for the others

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

TRANSLATE

Just Click!!

Join 849 other followers

Blog Stats

  • 16,404 hits
%d bloggers like this: